Sabtu, 02 April 2011

Kumpulan Kata-Kata Mutiara Cinta Kahlil Gibran

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Khalil Gibran, salah satu pujangga terdepan dalam masalah mengolah kata menjadi mutiara. Semoga postingan ini membawa manfaat.
Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang.
Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.
Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.
Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia, karena cinta itu membangkitkan semangat,hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.
Aku mencintaimu wahai kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau. Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita. Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta.
Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan. Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku cintai…
Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta adalah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya.
Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah senantiasa.
Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburnya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan bisa memperolehinya kembali?
Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu.
Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia, sebab kekuatan itu tidak akan pernah direnggut dari manusia penuh berkat yang mencinta.
Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.
Bekerja dengan rasa cinta, bererti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri orang lain dan kepada Tuhan. Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu? Bekerja dengan cinta bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.
Kata-kata tidak mengenal waktu. Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyadari akan keabadiannya.
Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.

posted by Abied @http://www.masbied.com/2009/12/12/kumpulan-kata-kata-mutiara-cinta-khalil-gibran/
reposted by dita

KEPEMIMPINAN DALAM MUHAMMADIYAH


by Haedar Nashir
(BAGIAN 1: BASIS NILAI DAN LEGITIMASI)
Menggambarkan atau menjelaskan kepemimpinan
Muhammadiyah secara utuh tidaklah mudah, lebih-lebih
yang bersifat empirik. Fenomena empirik dalam
Muhammadiyah –sebagaimana fenomena sosial dan keagamaan
yang lainnya— seringkali beragam atau tidak tidak tunggal, sehingga
tidak dengan mudah untuk digeneralisasi. Ketidak-tunggalan
fenomena empirik itu bahkan semakin menjadi tampak rumit atau
kompleks ketika ditarik pada konsep-konsep normatif, yang tidak
jarang pula bersifat pusparagam dan multitafsir. Dunia empirik dan
normatif tidak lepas dari konstruksi yang membuatnya sehingga
pada akhirnya bersifat relatif dan subjektif.
Ambillah contoh mengenai bagaimana format dari fenomena
dan norma kepemimpinan kolegial dalam Muhammadiyah, yang
selama ini dianggap sebagai ciri khas kepemimpinan Persyarikatan.
Seperti apakah sebenarnya kepemimpinan kolegial yang dipandang
ideal itu? Apakah kepemimpinan kolektif itu masih memberi ruang
pada kebebasan dan otoritas individu atau bersifat mutlak seperti
dalam gaya kepemimpinan kolektif-totaliter.
Demikian halnya dengan konsep atau sosok nyata dari figur
pemimpin yang dianggap ideal dalam Muhammadiyah. Apa ciri
pemimpin Muhammadiyah yang ideal dan apakah sungguh ada
pemimpin ideal dalam Muhammadiyah itu? Sebab sering terjadi
bahwa setiap pemimpin itu memiliki idealisasi di mata umatnya
pada masing-masing periode, yang belum tentu ideal untuk periode
lain yang berbeda. Idealisasi itu sendiri hanyalah konstruksi dari
umat atau warga pengikutnya, yang belum tentu diterima oleh
kelompok umat yang berbeda. Sosok pemimpin ideal tidak jarang
bersifat imaji publik, yang pada intinya juga bersifat konstruksi.
Karena itu, mendeskripsikan tentang konsep dan struktur
kepemimpinan dalam Muhammadiyah haruslah disertai dengan
pemahaman bahwa pelukisan tersebut sekadar upaya
menampilkan gambaran yang tidak utuh dan bersifat relatif, bukan
merupakan generalisasi yang ideal. Idealisasi juga jangan
dianggap doktrin. Kita sekadar sedang berusaha memahami
bagian-bagian dari apa yang disebut dengan struktur
kepemimpinan Muhammadiyah melalui konstruksi atau penafsiran
yang sepenuhnya bersifat parsial atau tidak utuh.
Jika konstruksi mengenai kepemimpinan Muhammadiyah
itu dikaitkan dengan patokan-patokan yang disebut Islami atau
Islam, perlu dipahami juga bahwa wilayah tafsirnya sangat plural
dan luas rentangannya. Boleh jadi satu pihak akan menarik
konsep kepemimpinan yang dipandang ideal itu pada sisi akhlaq,
sementara yang lain pada aspek intelektual atau mu’amalah, dan
lain sebagainya, dengan tafsir masing-masing sesuai dengan
referensi dan fokus perhatian yang menstrukturnya. Konstruksi
normatif itu sendiri seringkali tergantung pada para penafsirnya.
Bahkan boleh jadi apa yang disebut normatif itu sendiri tidaklah
otentik, selain karena dipengaruhi oleh faham penafsirnya, juga
tidak jarang bukanlah wilayah normatif.
Sikap dan pemahaman yang bersifat relatif semacam itu
penting untuk dikedepankan agar tidak terjebak pada memutlakan
suatu pandangan dan menjadikan idealisasi sebagai dogma.
Sebab ketika sebuah pandangan itu dimutlakan dan kemudian
menjadi hegemoni, biasanya akan dengan mudah dijadikan
parameter tunggal yang tidak jarang dipakai untuk menjadi alat
menghakimi atau memvonis tanpa perspektif yang luas. Padahal
sejatinya, aspek kepemimpinan –termasuk dalam tataran
empirik— sungguh merupakan area yang penuh dinamika dan
tidak sepenuhnya dapat dicandra sekadar dengan norma-norma
ideal, lebih-lebih dengan patokan norma yang masih dapat
diperdebatkan dan bersifat multiinterpretasi.
Masalah kepemimpinan sebagian besar melibatkan faktorfaktor
multiaspek seperti latar belakang sosial dan individual,
struktur dalam sistem kepemimpinan tersebut, interaksi antara
pemimpin dan yang dipimpin, kondisi dan konteks yang
berkembang saat itu, kepentingan-kepentingan, selain factor nilai
dan norma yang dianut dalam kepemimpinan tersebut.
Nilai dan Norma
Di lingkungan Muhammadiyah, baik yang berkenaan dengan
struktur organisasi maupun kepemimpinan dikaitkan dengan
landasan atau orientasi nilai dan norma, yang rujukannya pada
ajaran Islam. Pada tataran empirik tidaklah mudah untuk mencari
rujukan mengenai struktur organisasi dan kepemimpinan
Muhammadiyah yang didasarkan pada nilai atau norma yang
ideal berdasarkan ajaran Islam secara langsung. Apakah format
struktur dan kepemimpinan yang dipilih Muhammadiyah selama
ini merupakan pengejawantahan langsung dari nilai-nilai dan
norma-norma Islam secara integralistik atau bersifat substantif
semata atau sebagai hal yang praktis belaka sehingga lebih
merupakan wilayah yang bercorak “sekular” atau duniawi dengan
mengadopsi sistem birokrasi modern.
Sedangkan mengenai nilai dan norma kepemimpinan yang
telah menjadi alam pikiran kolektif dalam Muhammadiyah ialah
konsep amanat dan uswah hasanah. Amanat dikaitkan dengan
kedudukan dan fungsi jabatan dalam kepemimpinan
Muhammadiyah, sedangkan uswah hasanah berkaitan dengan
identifikasi diri para pemimpin Muhammadiyah yang muaranya
DR. H HAEDAR NASHIR, M.SI.
SUARA MUHAMMADIYAH 01 / 96 | 1 – 15 JANUARI 2011 13
pada figur Nabi Muhammad sebagai suri tauladan. Bagaimana
dengan konsep amanat para pemimpin Muhammadiyah dalam
menduduki dan menjalankan fungsi kepemimpinan yang seringkali
dihadapkan pada tuntutan-tuntutan praktis? Dalam tradisi
Muhammadiyah ada penerimaan atas idiom, “jangan mengejar
jabatan”, tetapi “apabila diserahi jabatan jangan menolak”.
Pada tingkat ideal konsep amanat dan uswah hasanah tersebut
tentu mudah untuk disepakati dan menjadi mode for action yang
niscaya. Tetapi, pengejewantahannya tidak jarang mengalami
ketegangan kreatif karena di satu pihak seringkali patokan normatif
itu membangun konstruksi yang sangat bercorak puritan sehingga
lahir idealisasi kepemimpinan “sorgawi”, tetapi pada saat yang
sama berhadapan dengan fenomena-fenomena nyata yang
seringkali bercorak “duniawi” yang membuka ruang adanya
ketidak-idealan atau bahkan kesalahan yang melekat dalam diri
para pemimpinnya. Hal-hal yang secara ideal secara normatif
seringkali berbeda jauh dalam kenyaan empirik karena adanya
dinamika duniawi yang bersifat khas seperti terikatnya para
pemimpin sebagai manusia biasa dalam tuntutan-tuntutan duniawi.
Debat yang sempat mencuat pada masa kepemimpinan K.H.
A.R. Fakhruddin seputar gagasan Drs. H. Lukman Harun tentang
pemimpin Muhammadiyah agar digaji sebagai bentuk profesionalisasi,
merupakan salah satu dari ketegangan nilai/norma
antara yang ideal dengan yang real sebagaimana disebutkan itu.
Demikian pula mengenai tuntutan-tuntutan agar para pemimpin
Muhammadiyah “aktif total” dan menjadi “figur teladan” di tengah
tuntutan-tuntutan dan keterbatasan-keterbatasan manusiawi.
Masalah tersebut merupakan ketegangan yang tak pernah surut
dalam perjalanan kepemimpinan Persyarikatan. Pendek kata,
bahwa nilai dan norma ternyata selalu memerlukan pelembagaan
dan tidak jarang menghadapi masalah-masalah aktualisasi yang
dilematis dan khas duniawi.
Hal terpenting yang harus menjadi acuan dasar para pimpinan
Muhammadiyah ialah, pertama nilai-nilai Islam termasuk di dalamnya
akhlaq Islami wajib menjadi fondasi dalam kepemimpinan
Muhammadiyah siapapun dan format apapun pemimpinnya.
Kedua, spirit dan komitmen para pemimpin Muhammadiyah
haruslah kuat dan optimal dalam menjalankan kepemimpinan yang
dilandasai keikhlasan, pengkhidmatan, dan amal shaleh untuk
memajukan kemajuan umat dan bangsa melalui Muhammadiyah.
Ketiga konsistensi antara nilai dan tindakan, kata dan perbuatan,
niat dan praktek, ilmu dan amal, serta menunjukkan diri sebagai
uswah hasanah yang otentik dan tidak dibuat-buat atau palsu. Jika
selalu menyuarakan kepemimpinan yang Islami, maka tunjukkan
keislaman itu dalam tindakan, perbuatan, dan kenyataan sehingga
bukan sekadar norma, lisan, dan jargon.
Legitimasi Kepemimpinan
Kepemimpinan di mana pun, selain distruktur oleh nilai dan
norma, juga secara empirik dibangun di atas power structure
(bangunan kekuasaan) sebagai dasar legitimasi sekaligus menjadi
ciri khas dari institusi/kultur kepemimpinan yang bersangkutan, yang
tidak jarang membedakannya dengan struktur/kultur kepemimpinan
pada komunitas lainnya. Kekuasaan di sini tentu dalam makna
duniawai, bukan kekuasaan Tuhan sebagaimana sering disalahtafsirkan
oleh sementara kalangan yang berpandangan radikal.
Bahwa sumber segala kekuasaan pasti dari dan berada di genggaman
Allah SWT, manusia hanya me njalankan fungsi-fungsi
kekuasaan relatif di dunia. Jadi yang dimaksud kekuasaan dalam
kepemimpinan itu dalam makna duniawi dan bersifat relatif, tidak
disamakan dengan kekuasaan Allah yang mutlak.
Dalam Muhammadiyah tidak begitu dipersoalkan mengenai
bangunan struktur kekuasaan yang melandasi kepemimpinannya.
Muhammadiyah jarang memperbincangkan mengenai konsep
imamah dan seat of authority yang membentuk format kepemimpinannya.
Muhammadiyah tampaknya tidak tertarik atau membahas
tentang imamat al-uzma dalam bangunan struktur kepemimpinannya
sebagai puncak otoritas, termasuk membahas
mengenai boleh atau tidaknya perempuan dalam puncak piramida
kepemimpinan itu. Hal yang telah diterima secara konvensi atau
tradisi bahwa Muhammadiyah menganut sistem musyawarah
atau demokrasi dalam kepemimpinannya. Secara tidak langsung
Muhammadiyah mempraktekkan kepemimpinan demokrasi
dengan struktur kekuasaan yang bercorak keumatan (kerakyatan)
dan egalitarian. Sumber kekuasaan atau legitimasi kekuasaan
berasal dari umat melalui muktamar yang harus dipertanggungjawabkan
pula kepada umat di muktamar berikutnya.
Pemaknaan demokrasi jangan ditarik ke konsep kekuasaan
manusia vis a vis (lawan) kekuasaan Tuhan. Demokrasi sebagai
basis kekuasaan yang meligitimasi kepemimpinan tentu harus
dimaknai relatif, bahwa kepemimpinan dari, oleh, dan untuk rakyat
(umat) tentu ada bingkai dan batasannya, sejauh sejalan dengan
nilai-nilai dasar Islam. Dalam makna relatif dan sejalan dengan
ajaran Islam itulah Muhammadiyah membingkai kepemimpinan
demokrasi berbasis musyawarah sebagai basis legitimasi dan
otoritas sekaligus mekanisme dalam mengatur segala ihwal
organisasi. Dengan demikian Muhammadiyah menjadi organisasi
yang terbuka dan kepemimnannya bersifat demokratis.
Karena itu iklim demokrasi menjadi sangat terbuka dalam kepemimpinan
Muhammadiyah, bahkan kadang berlebihan sehingga
nyaris tak ada batas antara pemimpin dan umat atau antarlini
kepemimpinan. Kondisi ini selain positif dalam membangun tatanan
sosial yang terbuka di Muhammadiyah, tetapi kadang mencerabut
rasa takzim dan hubungan-hubungan otoritatif dalam Muhammadiyah
yang dalam batas-batas tertentu diperlukan. Lebih jauh lagi tumbuh
kecenderungan untuk tidak menaati keputusan pimpinan manakala
muncul ketidak-puasan dalam kebijakan organisasi. Tidak jarang
unit-unit kelembagaan termasuk amal usaha dan badan-badan
lainnya cenderung menjadi otonom, bahkan dalam batas tertentu
menjadi “kerajaan-kerajaan” sendiri, yang tidak mudah untuk diatur
dalam sistem kepemimpinan Muhammadiyah. Namun kini terjadi
perkembangan yang positif kecenderungan otonomisasi itu mulai
melonggar dan mengalami pelembagaan dalam ketaatan asas terhadap
kepemimpinan persyarikatan, sehingga terjadi regulasi dan
rasionalisasi. Jika di sana sini masih terdapat kecenderungan yang
tidak mau diatur oleh persyarikatan, maka harus terus dilakukan
penataan dan konsolidasi secara tersistem, selain melalui berbagai
pendekatan yang elegan. Hal itu diperlukan agar kepemimpinan
Persyarikatan menjadi kekuatan regulasi dalam seluruh ranah
kepemimpinan Muhammadiyah, termasuk di amal usaha, majelis,
lembaga, organisasi otonom, dan institusi bagian lainnya. Muhammadiyah
menjadi kekuatan sistem yang solid.l

source :http://pdm1912.wordpress.com/2011/02/10/kepemimpinan-dalam-muhammadiyah/
reposted by dita

Peranan Muhammadiyah Bagi Negara

Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia. Dari fakta tersebut sudah tersirat tentunya Islam memiliki peran yang cukup besar di negara ini. Sebagai contohnya dapat dilihat dari peranan salah satu organisasi Islam di Indonesia, yaitu Muhammadiyah.


Peranan Muhammadiyah Bagi Negara

Muhammadiyah berpandangan bahwa berkiprah dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu perwujudan dari misi dan fungsi melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar sebagaimana telah menjadi panggilan sejarahnya sejak zaman pergerakan hingga masa awal dan setelah kemerdekaan Indonesia. Peran dalam kehidupan bangsa dan negara tersebut diwujudkan dalam langkah-langkah strategis dan taktis sesuai kepribadian, keyakinan dan cita-cita hidup, serta khittah perjuangannya sebagai acuan gerakan sebagai wujud komitmen dan tanggungjawab dalam mewujudkan "Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur".

Bahwa peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan melalui dua strategi dan lapangan perjuangan. Pertama, melalui kegiatan-kegiatan politik yang berorientasi pada perjuangan kekuasaan/kenegaraan (real politics, politik praktis) sebagaimana dilakukan oleh partai-partai politik atau kekuatan-kekuatan politik formal di tingkat kelembagaan negara. Kedua, melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang bersifat pembinaan atau pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan-kegiatan politik tidak langsung (high politics) yang bersifat mempengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force) untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tingkat masyarakat dan negara sebagaimana dilakukan oleh kelompok-kelompok kepentingan (interest groups).

Muhammadiyah secara khusus mengambil peran dalam lapangan kemasyarakatan dengan pandangan bahwa aspek kemasyarakatan yang mengarah kepada pemberdayaan masyarakat tidak kalah penting dan strategis daripada aspek perjuangan politik kekuasaan. Perjuangan di lapangan kemasyarakatan diarahkan untuk terbentuknya masyarakat utama atau masyarakat madani (civil society) sebagai pilar utama terbentuknya negara yang berkedaulatan rakyat. Peran kemasyarakatan tersebut dilakukan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti halnya Muhammadiyah. Sedangkan perjuangan untuk meraih kekuasaaan (power struggle) ditujukan untuk membentuk pemerintahan dalam mewujudkan tujuan negara, yang peranannya secara formal dan langsung dilakukan oleh partai politik dan institusi-institusi politik negara melalui sistem politik yang berlaku. Kedua peranan tersebut dapat dijalankan secara objektif dan saling terkait melalui bekerjanya sistem politik yang sehat oleh seluruh kekuatan nasional menuju terwujudnya tujuan negara.

Created by Adrian R Katil
reposted by Dita

Berjilbab Tapi Telanjang

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketika orang memalingkan pandangan pada kedudukan wanita dalam Islam, yang paling disorot adalah seputar pembahasan jilbab, jilbab dan perkawinan. Secara garis besar, terlihat Islam membedakan antara wanita dan pria dalam beragam syariat.
Islam dituduh sebagai ajaran yang sama dengan agama besar lainnya. Menempatkan urut sebagai makhluk nomor dua. Benarkah demikian? Seputar persoalan moralitas pria dan wanita dalam segala aktivitas terhadap yang  harus terefleksikan dalam cara berpakaian, bergaul dan berpikir. Persoalan diataslah yang melatarbelakangi penyusunan makalah ini.
Rumusan Masalah
  1. Menjelaskan pengertian kudung gaul?
  2. Faktor penyebab kudung gaul?
Manfaat Penulisan Makalah
Agar kita lebih memahami serta mengetahui adab dan tata cara berpakaian seorang muslimah yang baik.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Utama tentang Jilbab/Kudung
Sejenis baju yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada, tetapi tersirat maksud sebagai idealitas dan kontrol sosial (mudah dikenal dan tidak diganggu).
Sementara pengertian dari jilbab gaul adalah bentuk ekspresi kawula muda yang membuat kebebasan berpakaian. Sebagai seorang muslimah, untuk tidak mau ketinggalan zaman alias tidak mau disebut kampungan, kuno atau terbelakang. Sementara mau pakaian modern umumnya didominasi gaya barat yang  notabene Amerikan dan Eropa dimana fashion diidentikkan dengan gaya hidup. Tak heran jika dalam mengerjakan hal apapun disana selalu ada rambu-rambu yang namanya fashion atau mode. Mereka yang tidak mengikuti mode pakaian tertentu untuk kegiatan tertentu pula. Diidentikkan dengan manusia terbelakang.
Jika jilbab identik dengan jilbab gaul, maka jilbab tak berfungsi  lagi sebagai pelindung wanita dari godaan laki-laki.
“Wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat, rambutnya sebesar punuk  unta. Mereka tidak akan masuk surga padahal  bau surga itu tercium sejauh perjalanan yang amat panjang (HR. Muslim).
Padahal hadis di atas terdapat beberapa hadis pendukung yang dimana munculnya jilbab  gaul secara syar’i  bisa dikategorikan jilbab yang sesungguhnya bukan jilbab (jilbab palsu) karena tidak memenuhi jilbab yang dituntut Islam. Bahkan, mereka yang telah terjerumus kedalam mode berpakaian seperti ini telah berbuat fakhisyah, suatu kejahatan yang bukan saja merugikan diri sendiri, juga menjerumuskan orang lain  pada lembah kehinaan.
Mereka yang berjilbab tapi jauh dari kriteria tersebut dikategorikan wanita telanjang Rasulullah bersabda:
“Dari Abdullah bin Umar, ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun hakikatnya telanjang di atas mereka seperti terdapat bongkok (punuk) unta. Kutuklah mereka (HR. Attabrani, Al Mu’jam As-Shagir : 223)
Maka (ketika aurat terbuka) haruslah nafsu orang yang didalamnya ada penyakit (Al-Ahzab :32)
Faktor yang menyebabkan munculnya jilbab gaul
Islam mengidentifikasikan jilbab bagi wanita sebagai pelindung dan berbagai bahaya yang muncul dari pihak laki-laki.
Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya jilbab gaul adalah:
  1. Maraknya tanggapan televisi atau bacaan yang terlalu berkiblat ke mode barat
  2. Minimnya pengetahuan anak terhadap nilai-nilai Islam sebagai akibat  dikuranginya jam pendidikan agama di sekolah umum.
  3. Kegagalan fungsi keluarga. Munculnya  fenomena jilbab gaul ini secara tidak langsung menggambarkan kegagalan fungsi keluarga sebagai kontrol terhadap gerak langkah anak-anak muda.
  4. Peran para perancang yang tidak memahami dengan benar prinsip-prinsip Islam.
  5. Munculnya para mu’allaf dikalangan artis atau artis yang  baru mengenakan kerudung artis di era modern tak ubahnya seorang Nabi yang segala tingkah dan ucapnya menjadi teladan bagi fansnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
  1. Dunia Islam, khususnya di Indonesia tengah dilanda degradasi merah yang terjadi secara berkesinambungan.
  2. Generasi muda banyak meniru tayangan, instan yang ada di TV akibatnya mereka kian permisif dan emosional
  3. Berbagai kekerasan dan seks belas pun melanda Indonesia kerudung gaul hal ini sebagai imbas dari  semua itu.
Al-Ghifari, Abu. 2004. Kudung Gaul (Berjilbab tapi Telanjang) Bandung: Mujahid Press.
Sa’bah, Marzuki Umar. 2004. Remaja dan Cinta Jakarta, Gema Insani Press.
source @http://www.masbied.com/2010/06/05/berjilbab-tapi-telanjang/
posted by Abid @www.masbied.com

Example of Narrative text



A Legend of Candy Cane

A candy maker in Indiana wanted to make a candy that would be a witness, so he made the Christmas Candy Cane. He incorporated several symbols for the birth, ministry, and death of Jesus Christ.

He began with a stick of pure white, hard candy. White to symbolize the Virgin Birth and the sinless nature of Jesus, and hard to symbolize the Solid Rock, the foundation of the church, and firmness of the promises of God.

The candy maker made the candy in the form of a "J" to represent the precious name of Jesus, who came to earth as our Savior. It also represents the staff of the "Good Shepherd" with which He reaches down into the ditches of the world to lift out the fallen lambs who, like all sheep, have gone astray.

Thinking that the candy was somewhat plain, the candy maker stained it with red stripes. He used the tree small stripes to show the stripes of the scourging Jesus received by which we are healed. The large red stripe was for the blood shed by Jesus on the Cross so that we could have the promise of eternal life, if only we put our faith and trust in Him. Unfortunately, the candy became known as a Candy Cane - a meaningless decoration seen at Christmas time. But the meaning is still there for those who "have eyes to see and ears to hear".

JENIS-JENIS TEXT (READING GENRE)



A. DESCRIPTIVE TEXT
Ø    Pengertian : Teks yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu benda, tempat atau orang tertentu.
Ø    Struktur teks :
1.    Identification (Identifikasi), yaitu pendahuluan yang berisi “apa” dan “siapa” yang akan dideskripsikan.
2.    Description (Deskripsi), berisi cirri-ciri khusus yang dimiliki benda, tempat atau orang yang dideskripsikan.
Ciri-ciri :
1.    Menggunakan Simple Present Tense
2.    Menggunakan atribut verb seperti to be (is, am, are)


B. PROCEDURE TEXT
Ø    Pengertian : Teks yang bertujuan untuk menerangkan bagaimana cara membuat atau melakukan sesuatu berdasarkan langkah-langkah tertentu (steps).
Ø    Struktur teks :
1.    Aim/goal (Tujuan), judul.
2.    Materials, berisi alat dan bahan yang diperlukan, meskipun tidak semua teks procedure memerlukan tahap ini. Bagian ini biasanya diberi label ingredients, you’ll need, atau supplies needed.
3.    Steps, yaitu langkah-langkah untuk melakukan kegiatan, bagian ini dinamakan juga “What to do”.
Ø    Ciri-ciri :
1.    Menggunakan Simple Present Tense, biasanya berbentuk kalimat imperative
2.    Menggunakan kata hubung temporal (first, second, then, next, finally)
3.    Menggunakan action verbs (turn on, stir, cook)


C. REPORT
Ø    Pengertian : Teks yang menjelaskan sesuatu secara umum, seperti berbagai benda atau fenomena alam maupun sosial yang terjadi di sekitar kita.
Ø    Struktur teks :
1.    General classification (Klasifikasi umum), merupakan pengantar tentang sesuatu atau fenomena yang akan dibahas.
2.    Description (Deskripsi), menerangkan sesuatu atau fenomena yang dibahas, meliputi bagian-bagian, kualitas dan perilaku.
Ø    Ciri-ciri :
1.    Menggunakan Simple Present Tense kecuali jika sudah lampau menggunakan Simple Past Tense
2.    Menggunakan action verbs (surround, make, begin, etc.)


D. NARRATIVE TEXT
Ø    Pengertian : Teks yang menceritakan sesuatu yang bersifat imajinatif, bertujuan untuk menghibur pembaca.
Ø    Struktur teks :
1.    Orientation (Pendahuluan), memperkenalkan tokoh-tokoh dalam cerita, latar dan waktu.
2.    Complication, yaitu munculnya permasalahn diantara tokoh-tokoh.
3.    Resolution, penyelesaian atau pemecahan masalah.
4.    Re-orientation, penutup atau rangkuman.
Ø    Ciri-ciri :
1.    Menggunakan Simple Past Tense
2.    Biasanya dimulai dengan Adverb of time (kata keterangan waktu).
Misalnya long time ago, once upon a time, in afar away land, dan lain sebagainya.
3.    Menggunakan kata hubung (conjunction) seperti then, after that, before



E. RECOUNT
Ø    Pengertian : Teks yang bercerita tentang kejadian atau peristiwa yang telah berlalu atau lampau, biasanya tentang pengalaman pribadi penulis.
Ø    Struktur teks :
1.    Orientation (Orientasi), berisi pendahuluan tentang tokoh yang ada dalam cerita tersebut, peristiwa yang terjadi, serta tempat dan waktu peristiwa itu terjadi.
2.    Events, berisi tentang jalinan peristiwa atau kejadian yang ada dalam cerita pengalaman tersebut. Bagian ini dapat terdiri dari beberapa events.
3.    Re-orientation, berisi rangkuman atau penutup cerita.
Ø    Ciri-ciri :
1.    Menggunakan Simple Past Tense
2.    Menggunakan kata penghubung (conjunction), seperti then, before, after

Referensi: Buku kerja Logic Ugama “The Quickest and Easiest Solution”

ellipsis (grammar and rhetoric)

Definition: In grammar and rhetoric, the omission of one or more words, which must be supplied by the listener or reader. Adjective: elliptical or elliptic. Plural, ellipses.

Etymology:

From the Greek, "to leave out" or "fall short"

Examples and Observations:

  • "Wise men talk because they have something to say; fools, because they have to say something."
    (Plato)
  • "Prosperity is a great teacher; adversity a greater."
    (William Hazlitt)
  • "Ellipsis can be an artful and arresting means of securing economy of expression. We must see to it, however, that the understood words are grammatically compatible. If we wrote, 'The ringleader was hanged, and his accomplices imprisoned,' we would be guilty of a solecism, because the understood was is not grammatically compatible with the plural subject (accomplices) of the second clause."
    (Edward P.J. Corbett and Robert Connors, Classical Rhetoric for the Modern Student. Oxford Univ. Press, 1999)
  • "Some people go to priests; others to poetry; I to my friends."
    (Virginia Woolf)
  • "Vanessa had to leave her children and come running, nurses had to be hired, rest homes interviewed, transport accomplished."
    (Cynthia Ozick, "Mrs. Virginia Woolf: A Madwoman and Her Nurse")
  • "When well used, ellipsis can create a bond of sorts between the writer and the reader. The writer is saying, in effect, I needn't spell everything out for you; I know you'll understand."
    (Martha Kolln, Rhetorical Grammar, 5th ed. Pearson, 2007)
  • "There is much to support the view that it is clothes that wear us, and not we, them."
    (Virginia Woolf)
  • "True stories deal with hunger, imaginary ones with love."
    (Raymond Queneau)
  • "The potential for unintended humor in 'compressed' English isn’t restricted to headline writing; it goes back to the days of the telegraph. One clever (though possibly apocryphal) example once appeared in the pages of Time magazine: Cary Grant received a telegram from an editor inquiring, 'HOW OLD CARY GRANT?'--to which he responded: 'OLD CARY GRANT FINE. HOW YOU?' The omitted verb may have saved the sender a nickel, but the snappy comeback was worth far more."
    (Ben Zimmer, "Crash Blossoms." The New York Times, Jan. 27, 2010)
Ellipsis in Films
"Leaving out a character's face from the frame [in a scene in a film] is a special case of ellipsis with many applications.

"When the real Hitler arrives for a gala theater night in Warsaw, Ernst Lubitsch never shows his face. We see only his back from his arrival outside to his walking into his theater box, his arm raised in salute, and the standing audience below, or now and then a very long shot. This prevents a minor character from gaining undue weight, as such a historical personage would (To Be or Not to Be)."
(N. Roy Clifton, The Figure in Film. Associated University Presses, 1983)
Pronunciation: ee-LIP-sis
Also Known As: elliptical expression, elliptical clause